TAK SEINDAH PUISI
Sudah lebih dari tiga persimpangan yang kulalui. Nampaknya langkah ini makin goyah, pelan, dan bahkah tak terdengar derapan kaki yang kuharap untuk melewati jalan yang menanjak setengah tebing, dengan iringan raja siang yang makin lama makin menyengat. Ah, benar-benar harus terhenti. Ya, bagaimana aku sanggup menyeret kaki yang sudah lelah menjajaki tiap kerikil tajam, berderet sejauh tiga kilometer dengan bermandikan peluh yang tiada enggan membasahi sekujur tubuh yang lusuh ini. Jelas aku tak melangkah tanpa beban. Selain menjingjing tas dengan muatan kurang lebih dari enam buku pelajaran yang tebal dibarengi dengan buku catatan beserta peralatan sekolah lainnya, tatkala pikiranku pun terbebani oleh sejumlah masalah yang akhir-akhir ini mengganggu. Awalnya memang kuanggap biasa saja karna aku tak mau ambil resiko, apalagi untuk mengurusi semacam hal yang kuanggap bodoh dan tak penting.
Bisa memang aku berfikir hal itu tak penting. Tapi itu dulu, sekarang aku merasa terganggu olehnya. Apa ia aku harus mendiami setiap pernyataan maupun pertanyaan orang sekitar, terutama teman-teman sekolah yang ingin tahu tentang kejelasan hubunganku dengannya? Pernah sekali ketika aku pulang sekolah, tepatnya dengan jalan kaki, memang masih sejauh satu kilometer dari Smansa dosa, panggilan akrab untuk sekolahku dulu, begitu tenangnya aku berjalan sambil bercerita-cerita dengan teman, tiba-tiba sebuah kereta lewat dan mengalihkan pembicaraan kami.
Hei, bukankah itu Ery? Vida yang duluan mengalihkan pembicaraan.
Ya, itu memang dia, lantas kenapa? Jawabku setengah kesal.
Oh Tuhan, apa yang terjadi? Lagi-lagi Vida membuyarkan semangatku untuk melangkah melalui kerikil tajam itu lagi. Sebenarnya memang tidak semua kerikil tajam, sebagian jalan sudah diaspal, hanya saja ada yang bolong-bolong hingga mengeluarkaan kerikil, persis sekali dengan pikiranku yang semakin tak jelas.
Memang wajar kalau vida tersentak dan nyaris pingsan sejak pertama kali dia melihat Ery membonceng Fitry, dengan tangan yang memegang pinggul Eri dari belakang. Seolah memang mereka benar sedang pacaran dan dilanda buih-buih rasa yang mulai mekar.
Lain halnya dengan aku yang sama halnya seperti daun, makin menguning, rapuh, dan mungkin tak lama lagi akan gugur. Semua orang tentu tahu bahwasanya Ery itu memang dulu milikku. Kekasih dambaan yang terbaik menurutku, lantaran dialah sang mentari pagi yang membangunkanku dari setiap tidur. Pelipur lara sekaligus motivator yang tiada henti menopangku, mengubah segala sikap yang kurang baik di matanya dan orang lain. Di samping mentari pagi dialah juga sekaligus bintang malamku, yang sedia menerangi dikala kegelapan malam menggoyahkan langkahku. Dia memang Satu. Satu bintang yang kupuja disetiap mimpi indah dalam tidurku.
***
“Ve, bukankah Ery itu...........
“Ya, lupakan saja dan hentikan semua omonganmu! tangkisku sebelum ada kesempatan untuk Vida meneruskan keheranannya.
Lantas Vida hanya bisa geleng kepala melengkapi ketidakyakinannya melihat kekasihku jalan dengan Fitry, sahabat Ery dan juga teman satu kelasku sendiri. Dia paham dengan kekecewaanku, lantaran Vidalah sahabat terakrabku semenjak kami kecil hingga beranjak SMA. Segala keluh-kesah dan kepenatan yang senantiasa mendekap batinku, dikala matahari terbit dan kembali ke peraduannya, akan kucurahkan pada sahabatku yang satu ini.
Aku kembali berusaha mengalihkan pembicaraan tentang Ery, tapi tetap saja semua teman sekitarku masing-masing berkomentar dan memandangiku. Bahkan aku sampai tak sadar kalau ketidaksanggupan menahan setiap bola api yang bertengger mengamati ragaku yang setengah mati, membuatku nyaris terjatuh karna tersandung oleh kerikil yang ada di sela-sela jalan. Mungkin kalau tidak mengikuti kata hati aku bahkan akan menyamakan kerikil penyandung itu sama seperti sahabatku Fitry yang mulai menusuk, berkhianat, sekaligus menyerangku tanpa syarat dengan mengencani kekasih, bintang malamku. Tapi hati berkata lain, dia tetaplah sahabat dalam kelas maupun dalam kelompok belajarku. Aku tak bisa mengait-ngaitkan masalah pribadi dengan masalah pelajaran yang menurutku jauh lebih penting untuk masa depanku. Kali ini aku memang benar-benar diuji ketabahan, tapi untunglah waktu dapat berlalu dengan begitu cepat. Bahkan entah mujijat dari mana aku masih bisa dengan senyum menghadapi tatapan yang menyengat dari setiap orang yang ingin tahu tentangku dan Ery. Memang ia, aku hanya tersenyum di balik sebuah tangisan pahit. Keperihan akan luka yang makin terasa dan semakin dalam. Lengkaplah luka itu tak lagi bersimbah darah merah tapi justru terendam oleh nanah yang ketika suatu siang Vida memanggilku menyaksikan sebuah pertujukan yang dramatis bagiku.
“Ve, lihatlah, aku yakin kamu pasti akan percaya dengan semua ucapan teman selama ini’’, ucap Vida yang sedari tadi mengintip dari kaca ruangan ketika aku sedang membaca buku bahasa Inggris. Aku pun mengikuti sarannya, tapi tidak untuk mengintip dari kaca, aku justru pergi ke luar dan menyaksikan dua sejoli yang tengah berhadap-hadapan di bawah pohon yang ada di depan kelas. Suasana semakin riuh dengan kedatanganku. Apa mungkin mereka berpikir bahwa aku akan melabrak Fitri yang tak canggung-canggung mengambil bintangku? Ah, tapi aku tak seperti itu, beradu mulut bukanlah tipe wanita sepertiku, apalagi untuk main jambak-jambakan. Andai bukan masalah seperti itu dan memang dialah yang salah, atau andai dia berani menghinaku, itu barulah aku akan bertindak, melemparkan satu pukulan di wajah manisnya. Apalagi dengan latihan tae kwon do yang sedang kujalani waktu itu, mungkin satu jurus akan melayang. Tapi untunglah itu hanya prakiraanku saja. Bahkan yang terjadi waktu itu, aku berusaha tersenyum dan berpaling pura-pura meminjam buku pada temanku yang ada di kelas lain. Tindakan yang sempurna bukan? Ya, aku harap demikian. Karna dengan kusempatkannya meminjam dan mambaca buku, membawa kepuasan tersendiri bagiku ketika ulangan secara tiba-tiba, membuatku tidak kewalahan, bahkan jawabanku nyaris sempurna.
***
Malam ini aku merasa lain, tidak seperti malam sebelumnya yang terasa biasa-b`iasa semenjak beberapa waktu yang lalu aku dan Ery nirkomunikasi. Hilang komunikasi membuat jarak yang semakin renggang. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu di antara kami. Bahkan sekalipun dalam satu sekolah, hingga pada suatu ketika sebuah kejadian tragis membekukan darahku. Oh Tuhan... bintangku didekap kerikil itu lagi.
Waktu bergulir tanpa peduli siapa dan apa yang terjadi. Sekian lama kucoba meredam akan semua yang terjadi. Ery yang selama ini kukagumi, kusanjung, dan bahkan kubawa dalam setiap nafasku, kudekap erat dalam batinku sekarang telah berpaling. Pria pertama yang pernah dekat dan melekat pada jiwaku, sekarang menebas harap yang selama ini kusulam pada tiap detik waktuku. Bintang hati yang selalu jadi tokoh utama pada tiap puisi terindah yang pernah kutulis untuknya, dan hanya untuknya. Bintang itu tak lagi bersinar di mataku.
kini Tiap detik terasa berat untuk dijalani, kisah yang telah lampau masih menyisakan sederetan luka, lantaran sebuah kesalahan tentu akan menggoreskan kekecewaan yang tiada pernah lagi dapat terhapus. Sekian lama dirundung sepi tentulah tak ada baiknya, apalagi berbalut bayang-bayang semu dari seorang pecundang. Kini aku berusaha memulai kehidupan baru, hidup dalam dunia yang sesungguhnya tanpa mimpi yang hanya bisa menyakiti. Bintang yang semu telah kuhapus dalam sukma, sekalipun cahayanya berkedip.
Tapi entah kenapa malam ini aku benar-benar ingin melihat bintang. Di bagian utara muncul serangkaian rasi bintang yang membentuk layang-layang, dan panahnya mengarah pada sisi kanan. Mataku mengikuti cahayanya, tiba-tiba saja muncul lagi bintang baru yang cahanya kadang redup diselimuti awan hitam. Astaga.... ada apa dengan bintangku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar